Potensi Konflik Perkebunan Kelapa Sawit

Indonesia sebagai salah satu negara berkembang menghadapi masalah kemiskinan dengan segala kompleksitasnya. Sejak pemerintahan orde baru terutama mulai 1970-an, sangat gencar dikumandangkan pembangunan untuk mengatasi kemiskinan. Pembangunan adalah proses perubahan yang disengaja dan direncanakan, atau  tujuan untuk mengubah keadaan yang tidak dikehendaki menuju arah yang dikehendaki. Salah satu upaya pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan dan peningkatan ekonomi bangsa adalah bidang pertanian, dalam hal ini perkebunan kelapa sawit.

Salah satu usaha pemerintah mengembangkan perkebunan sawit adalah memperluas lahan perkebunan, Pemerintah terus melaksanakan targetnya hingga laju perluasan kebun sawit kini sudah mencapai 800 ribu hektar per tahun (Jefri Siragih, dkk., 2007:1)[1]. Hal tersebut ternyata tidak hanya membawa dampak positif bagi sektor ekonomi daerah maupun nasional, namun seiring dengan perluasanya persoalan atas sawit pun meluas di berbagai aspek kehidupan.

Berbagai jenis permasalahan yang timbul atas kemelut memunculkan ketidak percayaan dan amarah dari masyarakat serta menimbulkan agresifitas dan amarah masyarakat. Menurut Sears, (1985:124)[2] “Depresi ekonomi menyebabkan frustasi , yang mempengaruhi hampir semua orang…Akibatnya, berbagai bentuk agresi menjadi lebih umum”.

Keadaan ekonomi yang belum pulih benar dan cenderung fluktuatif serta psikologi masyarakat yang terus ditekan  mendorong terjadinya potensi konflik. Sebagaimana diungkapkan oleh Dr. Mustain (2007:13)[3],  bahwa kehidupan petani yang sebelumnya dihantui ketidakjelasan, dengan diperparah ketidakmenentuan, serta tekanan dan petani  terperosok dalam kemiskinan struktural dapat mengakibatkan kemarahan dan frustasi mendalam.

Perubahan sosial dan pola-pola kebijakan yang tidak sesuai dengan keadaan masyarakat akan menyebabkan terjadinya konflik. Sejauhmana korelasi antara beberapa variabel diatas akan menjadi telaah sehingga kita dapat menarik kesimpulan sejauh dan sebesar apa potensi konflik yang muncul atas perluasan perkebunan  sawit ini, dan harapannya diketahui  solusi apa yang tepat untuk mengatasi kemelut ini.


[1] Jefri Siragih,dkk., Satu Solusi Kemelut Sawit (Bogor: Majalah Tandan Sawit, September 2008), hal. 1.

[2] David O. Sears, Jonathan L. Freediman, L. Anne P, Psikologi Sosial (Jakarta: Erlangga, Edisi ke-5,  Jilid 2, 1985) diterjemahkan oleh Adriyanto. Hal. 124.

[3] Dr. Mustain, Petani vs Negara ( Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2007), hal. 13.

CSR for Our Environment

Manusia dan lingkungan hidup merupakan variabel yang saling mempengaruhi. Isu lingkungan yang semakin akut sudah pasti tidak lepas dari campur tangan dan berdampak besar bagi manusia sebagai makhluk yang mendiami, mengelola serta memanfaatkan lingkungan sekitarnya.

Jumlah manusia yang semakin bertambah tiap detiknya membuat tingkat pemenuhan kebutuhan semakin tinggi. Manusia memenuhi kebutuhanya dengan berbagai cara termasuk berkreasi serta berinovasi dalam memanfaatkan segala sesuatu yang tersedia di alam raya ini.

Kebutuhan yang terkadang tidak sejalan dengan ketersediaan baik ketersediaan sumberdaya alam, sumberdaya manusia maupum sumberdana berimplikasi pada perlakuan manusia terhadap lingkungan sekitarnya,  oleh karena itu diperlukan tindakan nyata untuk mempertahankan sumberdaya alam yang tersedia untuk kelangsungan hidup manusia dan menjaga bumi ini. Sinergitas antara masyarakat setempat, akedemisi, stakeholder serta pihak-pihak lain yang berperan penting dalam pelestarian alam dan penggerak roda pereknomian seperti swasta atau perusahaan sangat diperlukan untuk memecahkan masalah ini.

Berbagai cara telah dilakukan untuk mengatasi masalah lingkungan hidup, seperti program revitalisasi hutan, penanaman pohon bersama, dan lain sebaginya. Namun, semua itu belum cukup untuk mengatasi permasalahan yang semakin kompleks. Diperlukan etoda lain yang dapat melengkapi usaha-usaha yang telah dilakukan.

Corporate Social Responsibility (CSR) atau tanggung jawab sosial merupakan salah satu jawaban  yang baik jika diterapkan secara berkelanjutan, karena dapat  mengkoordinasikan dan mengkolaborasikan tugas, fungsi, kewajiban dari berbaga pihak yang berkepentingan seperti masyarakat setempat, akademisi, stakeholder, pemerintah dan tentunya pihak swasta atau perusahaan. Tidak hanya berupaya untuk mengatasi masalah lingkunga tetapi dapat mengelolanya dengan baik sehingga segala sesuatu dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan sosial.

Assalamualaikum…

Hi..Hello,,welcome to my blog, thanks so much for visit :D

my name is putri asih sulistiyo,Im a moslem,  live in haurgeulis, Indramayu, a regency in West Java.  Likes my name Im a charitable girl. I was born on Friday August, 24 1990. Begin education in Aisyiyah kindergarten an now studying  in Bogor Agricultural University, Sains Communication and Community Development (SKPM).

I Like cooking so much although I can’t cook well (he he he), love  writing all about social sciences , interest in politic and love Prof. Dr.Ir.BJ.Habibie,  he is a great man and inspiration in my life.

After graduate from SKPM  IPB I want to continue my study more and more  in order to I can be a professional in rural and social development, and also being a feminist. Aamiin :)